Senin, 02 Juli 2012


Membencimu

Membencimu, awalnya….
Kurasa tak terfikirkan
Kurasa tak perlu
Kurasa tak mungkin
Untuk membencimu

Membencimu, seiring berjalannya waktu…
Kurasa mulai terfikirkan
Kurasa mulai perlu
Kurasa mulai mungkin
Mulai ragu untuk membencimu

Membencimu, setelah aku tahu segalanya…
Kurasa terfikir
Kurasa perlu
Kurasa pasti
Aku membencimu

Membencimu…
Adalah keputusan akhir
Keputusan yang dibuat hati
Hati yang tersakiti
Yang telah kau remukkan 2 kali

Membencimu…
Tak ingin kusesali
Karena kau pun tak menyesali
Karena kau pun tak mengakui
Maka dari itu

Membencimu adalah yang terbaik untukku

Sabtu, 23 Juni 2012

Puisi Mencintaimu


Mencintaimu

Mencintaimu…
Hal yang tidak mudah bagiku
Banyak halangan dan rintangan
Tapi bisa kulalui jika bersamamu

Mencintaimu…
Merupakan anugerah bagiku
Hal yang ingin kulakukan
Sepenuh hati dan kasih sayang

Mencintaimu…
Meski akhirnya berpisah
Dari hati yang terdalam
Aku tidak pernah menyesal

Mencintaimu…
Merupakan keinginanku
Mengulanginya kembali
Kesempatan kedua

Mencintaimu…
Jikalau tak bisa dekat
Dari jauh pun tak masalah
Kulakukan dengan cara ku

Seumur hidupku, sebisa mungkin aku akan mencintaimu…

Kisah Cinta Ku

Mencoba mencintaimu
Awalnya kukira sulit
Tapi, perlahan kau berhasil
Mencuri hatiku, mencoba mencintaimu

Mulai mencintaimu
Kukira perasaan itu yang salah
Tapi kenyataannya
Perasaan itu lah yang paling benar

Sedang mencintaimu
Dunia serasa milik berdua
Manusia lain di sekitar
Tak terasa kehadirannya

Saat berpisah denganmu
Hati sakit, sekaligus hancur
Tak ingin berpisah
Tapi sudah terlanjur sakit

Kenangan bersamamu
Selalu terlintas di pikiran
Tak bisa menghilang dari hati
Menghantui ku selalu

Penyesalan datang
Hal yang kutakutkan
Muncul saat kulihat kembali
Dirimu yang jauh

Sudah tidak bisa lagi
Mengubah semuanya
Memutar kembali waktu
Untuk bersamamu lagi

Rabu, 16 Mei 2012

Puisi Di Saat Rapuh


Di saat rapuh
Di saat ku rapuh…
Kau datang ke dalam hidupku
Kau sentuh hatiku
Lalu mengukir kisah di sana

Di saat ku rapuh…
Kau datang mendekatiku
Mendendangkan sebuah lagu
Usir gundah di hatiku

Di saat ku rapuh…
Kau berjanji kepadaku
Akan selalu disisiku
Menemaniku hingga akhir

Di saat ku rapuh…
Kau menatapku dengan lembut
Mendengarkan keluh kesahku
Kemudian melemparkan sebuah senyuman

Di saat ku rapuh…
Kau berubah kepadaku
Kau salahkan aku, kau jauhi aku
Tanpa memberitahu apa salahku

Di saat ku rapuh…
Ku hancur berkeping
Di hati hanya tersisa duri
Air mata tak henti

Di saat kau rapuh…
Kulihat kau dari jauh
Terpancar kesedihan
Terpancar sinar kesepian

Di saat kau rapuh…
Ku dekati dirimu
Namun kau menjauh
Pergi menghindariku

Di saat kau rapuh…
Ingin ku ada di sisimu
Mendengar keluh kesahmu
Bersamamu kembali

Di saat kau rapuh…
Dirimu seolah hancur
Bagai butiran debu
Yang tiada memiliki arti

Di saat kau rapuh…
Tak ada yang bisa ku lakukan
Ingin ku tak bisa kupenuhi
Karena sudah tak ada hak lagi

Di saat kau rapuh…
Aku putus asa
Mendekat tak bisa
Menjauh terasa sakit

Di saat kau rapuh…
Hanyalah doa
Yang bisa kuberi untukmu
Berharap kau kan kuat kembali

Semuanya terjadi… di saat rapuh…

Naskah MC PENSI


Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua
Yang terhormat, para ibu guru
Dan yang kami sayangi, teman-teman serta adik-adik sekalian
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayahnya lah kita semua dapat berkumpul di sini.
Hadirin sekalian, selamat datang di acara pensi kami, kelas  11 IPA 5 yang berjudul AT COTTAGE (Art Talent blab la bla)
Apakah AT COTTAGE itu sendiri?
AT COTTAGE adalah suatu kontes yang diadakan pada musim tanam di desa Fantastik untuk mencari bibit-bibit unggul dalam bidang musik di desa ini dan sekaligus berharap agar bibit-bibit yang akan ditanam nanti akan menjadi bibit unggul yang akan tumbuh dan hasilnya dapat bermanfaat bagi siapa saja.
Nah,  Pertama-tama marilah kita sambut kepala desa kita yang akan memberikan sambutan, kepada Ria Anggraini, kami persilahkan
Setelah mendengar sambutan dari kepala desa, selanjutnya adalah sambutan dari pensehat desa, kepada Erik Yudhistira kami persilahkan
Baiklah hadirin sekalian, kita sudah mendengar kata sambutan dan alangkah baiknya sebelum acara ini dimulai, marilah kita sejenak berdo’a agar acara ini dapat berjalan lancar tanpa adanya halangan dan rintangan, kepada saudara Muhammad Rifqi Fadhila dimohon kesediaannya untuk memimpin pembacaan do’a
Hadirin sekalian, ini lah acara yang sudah kita tunggu-tunggu, kontes nya akan segera dimulai dengan penampilan pertama…

Selasa, 21 Februari 2012

Cerpen Tanpa Judul


Dengan diiringi Nona pemilik café ini, aku turun ke bawah untuk diperkenalkan dengan pegawai lainnya dan mengambil seragam baruku. Kulihat tadi seragam para karyawannya lucu-lucu! Aku akan mendapatkan teman baru. Ah…, semoga tak seperti teman-temanku yang lain. Tak pernah mau memperdulikan aku. Lupakan! Mungkin saja di sini tidak seperti itu. Aku harap…begitu. Seluruh karyawan dikumpulkan untuk upacara penyambutan karyawan baru. Aku jadi nervous.
Semuanya berbaris rapi dan tersenyum kepadaku. Aku senang sekali, kuharap senyum itu tak palsu. “Baiklah semuanya, hari ini kita mendapatkan keluarga baru. Namanya Cera Cerebrum, kalian cukup memanggilnya Cera”, jelas Nona pemilik café. Aku berkata dengan tersenyum pula,”Senang sekali bisa bergabung di sini. Mohon kerjasamanya”. “Sekarang, kembalilah bekerja. Jangan lupa tunjukkan kepada Cera cara-caranya! Kalau ada sesuatu, aku akan ada di ruanganku”, ujar Nona pemilik café sambil berbalik pergi.
Seluruh karyawan menghampiriku. Salah satu karyawan membawa sesuatu dan berkata,”Namaku Natasya Sun, panggil Tasya saja. Ini! Seragam untuk hari Senin yang resmi!”. “Salam kenal, terima kasih”, ujarku senang. Ada satu karyawan lagi membawa sesuatu dan berkata,”Aku Torin Namaste, panggil saja Torin. Ini, seragam untuk hari Selasa yang ceria”. “Salam kenal, terima kasih”, ujarku senang. Ada lagi karyawan yang membawa sesuatu dan berkata,”Aku Mika Jamaika, panggil saja Mika. Aku bawakan seragam untuk hari Rabu yang gelap”.
“Salam kenal! Terima kasih”, ujarku bertambah senang. Satu karyawan lagi datang membawakan sesuatu yang sepertinya seragam hari Kamis dan berkata,”Namaku Billy Bluesea, panggil Billy saja. Kubawakan seragam hari Kamis yang simple untukmu”. “Ya, salam kenal. Terima kasih Billy”, ujarku senang. Ada lagi karyawan yang datang membawa sesuatu dan berkata,”Aku Bastian Oldone, kau bisa memanggilku Bastian saja. Seragam hari Jum’at yang special kubawakan untukmu”. “Wah! Terima kasih, salam kenal juga Bastian”, ujarku senang.
Ada lagi yang datang membawa seragam selanjutnya dan berkata,”Aku Nami Tamania, panggil saja Nami! Seragam hari Sabtu yang santai ini hanya untukmu”. “Terima kasih Nami, salam kenal juga”, ujarku senang. Ada lagi yang datang dan berkata,”Ini seragam hari Minggumu yang lucu. Namaku Tiffany Magdalena”. “Terima kasih, Tiffany”, ujarku. Ada lagi yang datang dan berkata,”Ini seragam tahun barumu yang penuh warna. Namaku Justin Greenland, salam kenal”. “Salam kenal juga Justin, terima kasih”, ujarku.
Wah! Seragamnya banyak! Lucu-lucu lagi. Ada lagi yang datang dan berkata,”Ini seragam untuk hari Valentine yang romantis, kenalkan Rosa Monalisa”. “Salam kenal Rosa, terima kasih”, ujar ku dengan senang. Ada lagi yang datang dan berkata,”Namaku Rei Kirisaki, panggil saja Rei. Seragam White Day yang tulus untukmu”. “Ah, terima kasih. Salam kenal Rei”, balasku senang.
Ada lagi yang datang dan berkata,”Hai, ada seragam dari beberapa agama. Pilihlah sesuai dengan agama yang kamu anut, Cera. Kenalkan, Jade Halcyon. Biar kujelaskan sedikit, semua yang ada di sini muslim”.”Terima kasih atas penjelasannya Jade. Aku akan memilih seragam muslim”, ujarku senang. Waw! Nama mereka aneh-aneh, tapi ternyata muslim sama sepertiku. Ehehehe! Ada lagi yang datang dan berkata,”Aku bawakan seragam kemerdekaan Negara kita. Haris Dalton”. “Ow, terima kasih Haris”, ujarku senang.
Tiba-tiba Rosa datang dengan membawa beberapa baju, bukan seragam tetapi baju dan berkata,”Ah, hampir lupa. Di sini ada asramanya, ada juga pakaian gantinya. Ada pakaian tidur, santai, jalan-jalan, dan lainnya kalau kau ingin tinggal di asramanya”. “Apa? Asrama? Kelihatannya menyenangan sekali! Terima kasih”, ujarku senang. Semuanya berkata,”Sama-sama Cera”. “Kalian baik sekali. Aku mohon, bimbinglah aku teman-teman”, ujarku sambil menunduk. Semuanya tersenyum, Billy berkata,”Tentu saja Cera, kita kan keluarga di sini”.
Aku sangat senang sekali, meski sambutannya kecil-kecilan dan mendadak, aku senang. Karena aku merasakan suatu kenyamanan saat bersama mereka semua. Apalagi saat bersama Nona Kiku, beliau sudah seperti kakak bagiku. Asrama? Mungkin inilah jawaban atas keinginanku kabur dari rumah selama ini. Apa aku boleh tinggal di asrama? Kalau boleh, mungkin aku akan betah dan tak akan kembali dan melihat orang-orang dan segala sesuatu mereka yang tak ingin lagi aku lihat. Oh, Tuhan! Bantulah aku, tuntunlah aku selalu pada jalanmu. Izinkanlah aku melakukannya, aku ingin pergi dari rumah.

The End

Cerpen Tanpa Judul


Keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Kadang, aku sangat sedih jikalau memikirkan hal itu. Tak ada kehangatan yang kudapatkan dari sana. Keluargaku bukanlah keluarga yang berada, meski begitu seharusnya kehangatan keluarga itu lebih terasa jika keluarga itu kurang berada menurutku. Entah mengapa aku tak mendapatkan itu dari keluargaku. Sudah lama aku merencanakan pelarian dari rumah. Tapi, aku tak tahu harus tinggal di mana. Hah…, aku sangat ingin hidup mandiri dan jauh dari rumah serta keluarga ini.
Tapi, aku tak tahu harus tinggal di mana dan harus mencari kerja di mana. Karena, aku telah mencari kesana-kemari dan tak kutemukan satupun lowongan kerja. Aku merasa sangat kecewa sekali, padahal keinginanku untuk pergi dari rumah sangat besar. Suatu hari, setelah pulang sekolah, aku pergi berkeliling untuk mencari lowongan kerja. Temanku tak bisa menemani dengan alasan rumahnya jauh dan takut kalau kemalaman sampai di rumah nanti.
Terkadang aku kecewa kepada temanku yang satu itu. Hah…., saat aku sedang berjalan-jalan di sekitar gang-gang kecil, kutemukan sebuah café yang sepertinya lumayan mewah. Tapi, aneh! Masa’ membangun café di gang kecil yang jauh dari jalan raya? Tiba-tiba, mataku tertuju pada tulisan “DICARI SEORANG WAITER/WAITRESS” di depan pintunya. Sebuah harapan besar mulai muncul dan café itu seolah-olah menjadi cahaya baru di hidupku yang sangat kelam.
Semangatku yang semula hilang, kini mulai muncul. Aku segera berlari ke café itu dengan perasaan gembira. Sesampai di depan café itu, kulihat ke dalam, pegawainya lumayan banyak dan suasana di dalam café itu sangat nyaman sepertinya. Kulihat di sekitar café itu, ternyata tak ada nama. Café itu tak punya nama. Hm…, café yang aneh, tapi menurutku lebih menjurus ke unik. Dengan yakin, aku masuk ke dalam café itu. Ternyata, di depan pintu ada seorang waitress yang menyambutku dengan ramah.
“Selamat datang di café kami”, ujarnya dengan lembut. Aku membalas,”Terima kasih. Um…, jikalau ingin menjadi waitress di sini, syaratnya apa, ya? Dan…, di mana saya bisa mengkonfirmasikannya?”. “Oh, mau jadi waitress? Tak ada syarat untuk menjadi waitress di sini. Tinggal bilang kepada pemilik café ini saja. Mari, saya antarkan!”, jelasnya dengan ramah dan mempersilahkan diriku mengikutinya. Kuikutilah dia yang berjalan menuju tangga ke lantai 2.
Diperjalanan menuju lantai 2, aku bertanya kepada waitress itu,”Um…, namanya siapa, ya?”. “Namaku Tiffani. Namamu?”, tanyanya balik. Dengan senyum aku menjawab,”Namaku Cera”. “Jika ada pertanyaan lagi, akan terjawab begitu kau bekerja di café ini. Tak perlu bertanya secara langsung dengan yang lain, karena jawabannya ada di sekitar café ini pula”, ujar Tiffani dengan senyum. Hm…, agak membingungkan. Tapi, kurasa aku dapat mengerti dengan apa yang Tiffani katakan.
Tak terasa aku dan Tiffani sudah sampai di depan pintu kantor sang pemilik yang sekaligus manager di café ini. Jantungku mulai berdegup kencang. Kira-kira seperti apa managernya, ya? Apakah galak? Dan…, apakah aku akan diterima di café ini? Pelan-pelan kuketuk pintunya. Terdengarlah suara dari dalam, suaranya nampak seperti suara seorang wanita yang sangat dewasa dan berwibawa,”Masuk”. Dengan menarik nafas perlahan, aku mulai masuk. “Permisi…”, sapaku. Aku berdiri sejenak di depan pintu sambil memperhatikan manager yang sepertinya sedang sibuk menghitung-hitung segala sesuatunya.
Beliau adalah seorang wanita muda yang cantik dengan setelan jas hitamnya yang unik, berhiaskan rambut hitam berkilau panjang terurai, berkulit putih dan nampak halus serta wajah seriusnya dengan bola mata cantik yang berbinar bagai berlian. Aku terpana melihatnya. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku dan berkata,”Silahkan duduk, nona”. “Oh, baik”, ujarku sambil tersadar dari lamunanku tadi.
Gara-gara wajah beliau ini sangat serius, suasana yang sepi terasa mencekam bagiku. Namun kuberanikanlah diriku untuk mengatakan maksud dan tujuanku datang ke café ini. Tanpa ada pertanyaan wawancara satupun, beliau langsung berkata,”Silahkan ambil seragam di gudang makanan dan kamu sudah bisa bekerja di sini hari ini juga dengan gaji per hari. Kamu setuju?”. “Tentu saja, Bu! Saya setuju!”, ujarku dengan gembira.
Tak kusangka aku akan mendapat pekerjaan seperti ini. Terserah mau gajinya berapa, yang penting sekarang aku sudah kerja. Ini adalah langkah awal yang bagus untukku yang ingin kabur dari rumah. Terima kasih, Tuhan….ujarku dalam hati.

THE END